Konspirasi, Menjadi Pilihan

Saya percaya bahwa selalu ada Harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Di manapun, kapanpun. Memang terlalu sulit untuk percaya pada Harapan, sehingga: Konspirasi Harapan (Conspiracy of Hope) menjadi pilihan. Pilihan ini terpaksa saya ambil karena saat ini, saya seperti berada di antara optimisme dan pesimisme. Kondisi yang sudah terlanjur melarut dalam benak sebagian masyarakat, di manapun.., kapanpun.

Optimis karena ada figur semacam Jokowi yang bekerja dengan tulus. Karena ada kelompok-kelompok orang baik, yang menyuarakan dan melakukan perubahan. Karena ada kaum klandestin yang menggambari dinding kota dengan ajakan untuk bergerak melawan kejahatan. Di sisi lain, saya pesimis karena lebih banyak dari kita yang terlalu sibuk berusaha (bekerja), tak peduli halal atau haram, untuk hidup sejahtera. Saking sibuknya, sehingga mereka mungkin lupa, bahwa ketidakpedulian (apatis, kata Act Move) itu malah semakin membuat keadaan menjadi lebih buruk. Jarak antara si sejahtera dengan si tak-sejahtera makin jauh. Seperti bom waktu, kapan-kapan tragedi seperti chaos 98 akan meledak.

Perlawanan, harus dilakukan. Namun ketika perlawanan itu seperti berhadapan dengan tembok, sekali lagi: Konspirasi perlawanan menjadi pilihan. Conspiracy of Hope.

To be continuedCoHOPE